“Batu Bara Kembali Normal pada 2023”

“Batu Bara Kembali Normal pada 2023” Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa harga batu bara sudah mulai kembali normal di tahun 2023. Hal ini jika dibandingkan dengan tahun 2022 lalu yang mengalami lonjakan tinggi karena keadaan geopolitik dunia.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan, bila melihat rekam jejak harga batu bara 10 tahun ke belakang khususnya pada tahun 2010 hingga tahun 2020, harga batu bara terhitung sangat rendah.

Sedangkan pada tahun 2021-2022 lalu harga batu bara melonjak tinggi dan akhirnya pada tahun 2023 ini harga batu bara dinilai kembali normal.

“Saya ingin memperlihatkan dulu bagaimana historical dari harga batubara mulai 2010 sampai dengan 2020 aja di mana harga batubara itu memang sangat rendah, ya sangat rendah. Kemudian terjadi lonjakan yang eksepsional di tahun 2021 dan 2022. Nah kalau kita mengatakan di 2023 ini harganya menurut saya kembali ke normal,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia dalam program Mining Zone, dikutip Jumat (22/9/2023).

Dia menyebutkan bahwa harga batu bara pernah menyentuh level terendah pada tahun 2016 lalu sehingga bila dibandingkan dengan kondisi saat ini maka harga batu bara memberikan kesan yang positif.

“Kembali ke normal dan tetap lebih tinggi jika dibandingkan harga terendah yang ada di tahun 2016. Ya jadi kita melihat di sini ini masih memberikan suatu kesan yang positif,” tambahnya.

Walaupun begitu, Irwandy menilai bahwa harga batu bara ICE Newcastle kontrak Oktober ditutup di posisi US$ 160,4 per ton pada perdagangan Kamis (21/9/2023), tidak bisa dibandingkan dengan harga batu bara pada tahun lalu yang menyentuh rekor rata-rata di atas US$ 350 per ton.

Dia mengungkapkan bahwa harga batu bara diperkirakan akan berada dalam level yang sama hingga akhir tahun atau bahkan hingga ahun 2024 mendatang.

“Dan kira-kira sampai dengan kondisi sekarang ya. Kondisi sekarang kalau kita lihat memang apa yang terjadi misalnya di batu bara yang ada sekarang ini kita bisa lihat ada harga yang bervariasi tadi masih di sekitar itu,” tandasnya.

Seperti diketahui, berbicara batu bara tidak dapat terlepas dari sentimen China sebagai produsen dan konsumen terbesar dunia. Kabar terbaru dari batu bara China terkait dengan adanya pembangunan pembangkit listrik batu bara yang memiliki kapasitas dua pertiga listrik dunia.

Meski begitu, sentimen ini tentunya tidak dapat menggerakkan harga yang disebabkan oleh pembangkit listrik ini masih belum beroperasi. Penggerak harga batu bara masih disebabkan oleh lonjakan permintaan menjelang libur panjang di China yang akan dimulai pada 29 September mendatang.

Libur panjang ini akan mendorong Negeri Tirai Bambu menambah pasokan sebagai upaya mencegah kekurangan persediaan. Hari libur akan mendorong peningkatan permintaan, sehingga industri akan memaksimalkan kapasitas produksi yang akan mendorong kebutuhan listrik.

Beralih ke Negara Asia lainnya, India sebagai pengguna batu bara terbesar kedua konsisten mengalami peningkatan penggunaan batu bara setiap tahunnya. India menambah 25-30 Giga Watt (GW) pembangkit listrik termal selain 49 GW unit berbasis batu bara yang sedang dibangun.

Selain itu, sentimen tingginya permintaan menjelang berbagai festival pada September turut mempengaruhi permintaan tinggi India. Peningkatan permintaan batu bara Asia juga terlihat dari pengekspor batu bara terbesar dunia.

CoalMint mencatat batu bara Indonesia mengalami lonjakan permintaan, di tengah keterbatasan kargo kapal.

Tingginya permintaan tentunya akan meningkatkan produksi dan penjualan dari Indonesia. Mengutip MODI Kementerian ESDM sampai pada hari ini (19/9/2023), produksi batu bara Indonesia sudah menembus 529,05 juta ton atau 76,18% dari target produksi batu bara tahun ini yang mencapai 694,5 juta ton.

Adapun penjualan batu bara dari Indonesia sudah menembus 434,37 juta ton atau mencapai 62,54% dari target penjualan pada 2023 ini.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*